“Bawa ibumu ke
rumah sakit lagi, Via. Kalau hanya dijaga di rumah, itu sama saja kamu
membiarkan ibumu mati perlahan. Kamu kan PNS, apa yang kamu khawatirkan?
Kasihan ibumu.”
Deg. Hatiku terasa dihantam benda berat. Ucapan tetanggaku
yang datang menjenguk itu meluncur tanpa ragu, menghantam tepat di lubuk hati
yang paling dalam. Kalimatnya seperti tuduhan, menyiratkan bahwa aku tidak
berusaha maksimal untuk kesembuhan ibu.
Baru seminggu yang lalu ibu pulang dari rumah sakit.
Kondisinya tak banyak berubah, tapi itulah keinginannya: dirawat di rumah.
Kuhela nafas panjang sambil melirik adikku
yang duduk tak jauh dariku. Wajahnya tampak lusuh, matanya merah dengan lingkar
hitam di bawahnya. Jelas ia kurang tidur, sama sepertiku. Tanpa berkata-kata,
ia mendekat, menggenggam tanganku erat, seolah mencoba meredakan luka yang
tengah menganga di hatiku.
Dengan nada yang kuupayakan tetap
tenang, meski terasa ada bara yang menyala di dadaku, aku menjawab pelan, "Ibu tidak mau dirawat di rumah sakit.
Beliau ingin di rumah saja."
Tetanggaku
menatapku, seolah tak puas dengan jawabanku. "Ya... mana ada orang yang mau tinggal di rumah sakit. Tapi kamu
sebagai anaknya tidak boleh menyerah. Mau sampai kapan membiarkan ibumu
menderita seperti ini? Apa kamu benar-benar mau melihat ibumu mati
perlahan-lahan?"
Aku tercekat. Kata-katanya menusuk seperti sembilu, melukai
lebih dalam dari sebelumnya. Tapi aku hanya bisa terdiam, menggigit bibir agar
air mata yang sudah menggantung di sudut mata tidak jatuh. Tetanggaku
melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih keras, "Kamu kan PNS. Apa yang kamu khawatirkan? Biaya rumah sakit? Toh,
gajimu cukup, kan? Tidak mungkin kamu sampai kekurangan."
Aku tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke hatiku.
Dengan suara nyaris berbisik, aku hanya mampu menjawab, "Iya, nanti saya bawa ibu ke rumah sakit lagi." Jawaban
itu lebih untuk mengakhiri percakapan daripada sebuah janji.
Selebihnya, aku hanya menjawab "iya" atas semua
saran yang terus ia lontarkan. Hatiku sudah terlalu lelah untuk berdebat.
Begitu tetanggaku pergi, aku tak mampu lagi menahan air
mata. Dengan cepat aku usap pipiku menggunakan ujung kerudung, berharap tak ada
yang melihatku menangis. Tapi tiba-tiba, ibu menarik ujung bajuku. Perlahan, ia
berbisik dengan suara yang lemah, hampir tak terdengar.
"Via...
jangan menangis. Kamu sudah merawat ibu dengan sangat baik," katanya lembut, suaranya penuh kasih. "Tapi ibu tidak mau ke rumah sakit lagi. Ibu merasa seperti
dihukum setiap kali berada di sana. Ibu mau di rumah saja, sama kalian."
Aku menatap wajah ibu. Wajah yang mulai keriput itu tampak
lemah, namun matanya menyiratkan keteguhan yang luar biasa. "Tapi, Bu... kondisi ibu semakin
memburuk. Aku takut... aku takut kehilangan ibu," suaraku pecah, isak
tangis tak lagi bisa kutahan.
Ibu mengulurkan tangannya, menggenggam jemariku yang
gemetar. "Ibu tahu kamu takut. Tapi
ibu ingin disini... di rumah ini ibu merasa tenang. Ibu ingin menghabiskan
waktu bersama kalian, anak-anak ibu. Jangan menangis, Nak. Maafkan ibu sudah
merepotkanmu selama ini."
Air mataku mengalir deras. Setiap kata yang keluar dari
mulut ibu hanya menambah luka di hatiku, sekaligus menghangatkan hatiku dengan
cinta yang tak terukur. Aku menggenggam tangannya erat, berusaha menyalurkan
kekuatan yang sesungguhnya tak kumiliki.
"Bu, ibu
nggak merepotkan siapa-siapa. Aku dan adik akan selalu ada buat ibu. Aku
janji." Suaraku terdengar lirih,
nyaris tertelan oleh suara tangisku sendiri.
***
Dua minggu lalu, sebelum subuh, telepon dari adikku membangunkanku dari tidur.
"Mbak... ibu
sakit! Tiba-tiba ibu nggak bisa bersuara dan nggak bisa berdiri!" ucap adikku dengan nada panik.
Aku yang masih setengah sadar langsung terduduk. "Kok bisa? Semalam kan ibu masih
baik-baik saja?" tanyaku cepat, mencoba memahami situasi.
"Pokoknya
segera ke sini, Mbak!" katanya
tergesa-gesa sebelum menutup telepon. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas
keluar rumah dan menuju rumah ibu. Sebenarnya aku tinggal bersama ibu, tetapi
di rumah yang berbeda. Rumahku bersama keluargaku berada di belakang rumah ibu,
menghadap ke timur. Sedangkan ibu tinggal bersama bapak dan adikku di rumah
depan yang menghadap ke jalan raya.
Sesampainya di sana, aku langsung menuju mushola kecil di rumah ibu. Kulihat ibu duduk bersandar di
dinding, wajahnya tampak pucat, dan adikku berada di sampingnya, terlihat
gelisah.
"Bagaimana
keadaan ibu, Dik?" tanyaku penuh kekhawatiran.
Adikku menghela napas panjang sebelum menjawab. "Tadi, waktu selesai tahajud, tiba-tiba
ibu nggak bisa berdzikir, Mbak. Terus kakinya juga nggak bisa berdiri buat
shalat," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Via... ibu
nggak bisa berdiri... nggak bisa dzikir habis tahajud," ibu berkata dengan suara terbata-bata, air matanya mulai
mengalir. Wajahnya terlihat penuh kesedihan.
Hatiku serasa diremas. Aku segera mendekat dan meraih
tangannya yang gemetar. "Astaghfirullah...
sabar ya, Bu. Yuk, kita shalat Subuh dulu," ucapku lembut, berusaha
menenangkan ibu. Dengan hati-hati, aku membimbingnya melaksanakan Subuh dengan
posisi duduk.
Setelah selesai, kami membawa ibu ke tempat tidurnya.
Kulihat wajah ibu yang lelah, namun masih berusaha tersenyum kepada kami. Aku
tahu senyuman itu hanyalah untuk menenangkan kami, padahal di dalam hatinya
pasti penuh kekhawatiran.
"Dek, ini
seperti gejala stroke lagi," bisikku
kepada adikku saat ibu mulai terlelap. Lima tahun lalu, ibu pernah mengalami
stroke ringan. Bagian tubuh kirinya sempat lumpuh, tapi atas izin Allah, beliau
sembuh dalam sepuluh hari melalui rawat jalan ke salah satu dokter di kota
kami. Namun kali ini, kondisinya tampak lebih serius.
Aku mengusap wajahku, berusaha menenangkan pikiran yang
berkecamuk. Dalam hati, aku memohon kepada Allah agar memberi ibu kekuatan,
seperti yang pernah Ia berikan lima tahun lalu. Satu hal yang kutahu pasti: aku
akan melakukan apapun demi kesembuhan ibu.
***
Aku
menembus udara pagi yang menusuk tulang. Sisa-sisa rintik hujan semalam masih
bertahan di dedaunan, menambah dinginnya pagi ini. Kulirik jam digital di layar
sepeda motorku—pukul 5.45. Tapi mendung tebal yang menggantung membuat langit
masih tampak seperti selepas subuh. Ku Percepat
laju motorku. Rumah sakit ke rumahku berjarak sekitar 20 kilometer. Aku harus
sampai jam 6 pagi. Ada tugas menunggu: mempersiapkan anak-anakku untuk sekolah,
dan diriku sendiri untuk mengajar.
Sudah dua hari ibuku dirawat di rumah sakit. Aku dan adikku
bergantian menjaganya. Pagi hari aku pulang untuk melaksanakan tugas sebagai
guru. Usai sekolah, tanpa jeda, aku langsung kembali ke rumah sakit. Dua anakku
sementara diasuh oleh ayahnya di rumah. Rutinitas yang melelahkan, tapi aku
tahu aku harus kuat.
Sebelum pulang pagi ini, seperti biasa, aku membersihkan
tubuh ibu dengan hati-hati. Kulap kulitnya yang mulai keriput, ku ganti popoknya dengan lembut. Aku tak tega membiarkan adikku
yang laki-laki melakukan semua ini. Meski fisikku lelah, hatiku terasa lebih
tenang setiap kali memastikan ibu nyaman.
"Bu... Via
pulang dulu ya, mau mengajar," kataku pelan, mencoba terdengar biasa saja.
Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Iya, tapi jangan lama-lama ya... Aku
nggak mau ditinggal kamu," jawabnya terbata-bata. Kata-kata itu selalu
diucapkan setiap kali aku pamit pulang. Dan
setiap kali juga, dadaku terasa dihantam
gelombang rasa bersalah.
Pukul 6.10 aku tiba di rumah. Dengan sigap aku
mempersiapkan anak-anakku dan diriku sendiri. Tak ada waktu untuk santai. Baru
saja selesai mengencangkan jilbabku, sebuah pesan WhatsApp masuk.
"Bu Via,
jangan lupa hari ini Ibu bertugas memandu acara HGN di sekolah. Jangan sampai
terlambat."
Astaghfirullah... Aku hampir lupa tugas penting ini! Tak
ada waktu untuk mempersiapkan secara matang. Dalam perjalanan ke sekolah,
pikiranku sibuk menyusun apa yang harus kulakukan. Aku mencoba mengingat
kembali poin-poin hasil rapat beberapa hari lalu tentang rangkaian acara HGN di
sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku menarik napas dalam-dalam.
Kulihat wajahku di kaca spion. Semua kelelahan harus kusembunyikan. Dengan
senyuman yang kubuat sehangat mungkin, aku melangkah ke gerbang sekolah. Di
sini, aku harus berperan sebagai ibu peri yang ramah dan penuh kelembutan. Tawa
riang murid-muridku menantiku, dan mereka tak perlu tahu badai apa yang tengah ku hadapi di rumah.
Acara HGN berlangsung lancar meski aku sempat khawatir.
Begitu selesai, aku langsung meminta izin kepada kepala sekolah untuk pulang
lebih awal. "pak, saya harus kembali
ke rumah sakit. Ibu saya masih dirawat," kataku dengan nada sopan.
"Oh, tentu,
Bu Via. Semoga ibunya lekas sembuh,"
jawab kepala sekolah dengan empati.
Aku bergegas menuju motorku. Pikiranku hanya satu: ibu
menungguku. Meski tubuhku lelah, semangatku tetap menyala. Bagiku, merawat ibu
adalah bentuk baktiku yang tak akan pernah cukup untuk membalas semua cintanya.
***
Sepekan sudah ibu kembali dirawat di rumah, setelah dokter
menyarankan agar perawatan dilanjutkan di rumah saja. Hari-hariku terasa
semakin berat. Di satu sisi, aku harus mengurus dua anak kecil yang membutuhkan
perhatianku. Di sisi lain, aku juga harus menjalankan tugas mengajar yang tak
bisa ditinggalkan. Dan di tengah semua itu, ibu memerlukan perawatan penuh
kasih yang tidak bisa kutawar.
Sering kali, aku merasa sesak. Tubuhku lelah, pikiranku
kalut, dan hatiku terasa seperti diaduk-aduk. Ada saat-saat di mana sabarku
habis. Aku marah-marah pada anak-anakku hanya karena mereka rewel. Kadang aku
juga merasa tidak ikhlas menjalani semua ini. Lalu, rasa bersalah menyeruak.
Aku tahu aku tak seharusnya seperti ini, tapi aku hanya manusia biasa.
Perkataan tetangga yang datang menjenguk ibu pagi tadi juga
terus terngiang di pikiranku. Ucapannya seperti sembilu yang menusuk hingga ke
relung hati. Kata-katanya membuatku ragu, membuatku takut jika keputusan yang
kuambil selama ini salah. Di satu sisi, ada keinginan ibu yang begitu kuat
untuk dirawat di rumah, merasa lebih nyaman di tengah keluarga. Di sisi lain,
aku dihantui rasa bersalah jika kondisinya semakin memburuk karena tidak
membawanya kembali ke rumah sakit.
Dua hari yang lalu, saat kontrol rutin, aku sudah berbicara
panjang lebar dengan dokter. Dokter mengatakan bahwa ibu bisa dirawat di rumah
asalkan kami benar-benar telaten menjaga kondisinya. Tapi meski sudah mendapat
penjelasan itu, rasa gelisah tetap tak mau pergi. Bagaimana jika aku tidak
cukup baik? Bagaimana jika aku lengah? Bagaimana jika... aku gagal menjaga ibu?
Pikiran-pikiran itu terus menghantui, membuat dadaku sesak.
Aku ingin sekali percaya bahwa aku sudah melakukan yang terbaik untuk ibu. Tapi
suara-suara di luar—dan suara keraguan dalam diriku sendiri—tak henti-hentinya
menambah beban di pundakku. Rasanya aku berada di persimpangan yang tak kutahu
mana jalan yang benar.
Nyeri di kepalaku seperti tamu tak diundang yang semakin
sering mengetuk. Menambah gelisah di
hatiku. Mula-mula aku menganggapnya sepele, menenangkan diri dengan berpikir
bahwa ini hanya lelah biasa. Namun, sensasi itu perlahan berubah—menusuk tajam,
seperti ada sesuatu yang mencoba meledak di dalam kepala. Tapi aku terus
mengabaikannya. Bagi seorang ibu yang sibuk, rasa sakit hanyalah bagian dari
hari yang harus dilalui."
***
Dua bulan sudah aku dan adikku merawat ibu di rumah.
Keadaannya perlahan membaik. Ibu hampir berhasil melewati masa terburuknya.
Meski harus berjalan dengan tongkat, kondisinya jauh lebih baik daripada
sebelumnya.
Namun, kondisiku justru
berbanding terbalik. Sudah lama aku merasakan nyeri di satu sisi kepalaku, tapi
aku selalu menahannya, menganggapnya hanya sakit kepala biasa. Aku
menyembunyikan rasa sakit itu, karena pikiranku sepenuhnya tercurah pada ibu.
Namun, dua minggu terakhir, rasa sakit itu datang semakin sering, semakin
tajam, seakan memukul-mukul dari dalam. Tapi seperti biasa, aku mengabaikannya.
Bagiku, kewajibanku adalah memastikan kesehatan ibu, serta menjalani peranku
sebagai guru dan ibu rumah tangga.
Pagi ini, selepas sholat
subuh, aku bersiap memasak untuk sarapan pagi. Tapi tiba-tiba, sakit itu
menyerang dengan sangat dahsyat. Kepalaku terasa seperti meledak. Aku mencoba
memanggil suamiku, "Mas...
tolong..." Suaraku melemah, langkahku goyah, dan sebelum suamiku
sempat datang, aku ambruk. Gelap. Segalanya berubah menjadi gelap.
Ketika aku membuka mata, semuanya terasa aneh. Aku
mendengar tangisan, suara ibu, suara adikku, suara suamiku, suara anak-anakku.
Aku melihat mereka semua, tetapi mengapa mereka menangis seperti itu? Aku
segera bangkit, panik. Apa yang terjadi? Aku langsung mencari ibu, takut
sesuatu menimpa beliau. Tapi ibu ada di sana, menangis sambil duduk di samping
tubuh yang terbaring di atas tikar. Tubuh siapa itu? Aku melangkah mendekat,
dan dunia seakan runtuh ketika aku melihat tubuh itu—tubuhku sendiri.
"Astaghfirullah... Apa ini? Apa yang terjadi padaku?
Mengapa aku bisa melihat diriku sendiri?" Aku bergeming. Butuh beberapa
saat untuk menyadari kenyataan yang menamparku dengan begitu keras. Aku sudah
tiada. Aku meninggal dunia. Kata dokter yang memeriksa tubuhku, pembuluh darah
di otakku pecah. Begitu cepat, begitu mendadak.
Aku yang selama ini begitu takut kehilangan ibu, ternyata
kini akulah yang lebih dulu pergi. Aku kehilangan kesempatan untuk merawat ibu
lebih lama. Mataku tertunduk lesu. "Maafkan
aku, Ibu. Aku belum bisa menjaga dan merawatmu seperti yang seharusnya. Kini
semuanya aku titipkan pada adik."
Aku mendekat pada adikku yang menangis di samping ibu.
Wajahnya penuh kelelahan, tetapi hatinya selalu tulus. "Maafkan aku, Dik. Aku titip ibu padamu. Jagalah dia seperti aku
ingin menjaganya."
Tatapanku beralih ke dua anakku yang meringkuk di pelukan
suamiku. Mereka menangis tersedu-sedu, memanggil namaku, "Ummi... Ummi..." Aku ingin menyentuh wajah mereka, ingin
memeluk mereka sekali lagi, tetapi yang kurasakan hanya kehampaan. "Maafkan Ummi, anak-anakku. Maafkan
Ummi yang tak lagi bisa mendampingi kalian tumbuh besar. Semoga Allah selalu
menjaga kalian berdua dengan kasih-Nya."
Kutatap suamiku yang tampak terpukul, meski berusaha tegar.
Ia memeluk anak-anak kami erat-erat. "Maafkan
aku, Mas. Aku belum menjadi istri yang baik untukmu. Aku titip anak-anak kita.
Jangan terlalu keras pada mereka. Mereka tak lagi punya tempat untuk mencari
perlindungan atau pembelaan ketika kau memarahi mereka. Jadilah ayah yang sabar
untuk mereka."
Air mataku mengalir, meski aku tahu tak seorang pun dapat
melihatnya. Aku yang selalu takut kehilangan orang-orang terdekatku, ternyata
aku harus lebih dulu kehilangan diriku sendiri. Maut tak pernah memilih, tak
pernah menunggu siapa yang lebih siap. Allah sudah menentukan ajal setiap
manusia, dan tak seorang pun bisa memajukan atau menundanya barang sedetik.
Kullu nafsin dzaiqatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kini aku
hanya bisa berharap, semoga Allah memaafkan segala kesalahanku dan menerima
amal baikku. Aku titipkan semuanya kepada-Nya. Selamat tinggal, dunia yang
kucintai. Selamat tinggal, orang-orang tersayangku.
#CeritaSedih #Kehilangan #CerpenIslami #KasihSayangKeluarga
#CeritaHarapan #HikmahKehidupan #CerpenInspiratif #BaktiPadaOrangTua
#PerjuanganHidup #CeritaHaru

