Setahun yang lalu, sebuah perjalanan menulis saya mulai. Saat itu, bidang PAIS Kanwil Kemenag Jawa Timur menyelenggarakan program besar bertajuk “PAIS Berkarakter” — sebuah gerakan pembentukan karakter guru dan peserta didik melalui delapan indikator pembiasaan:
BErakhlakul karimah, Rajin mengaji, Kejar fadilah salat dhuha, Aktif salat
fardu, Ramah dan moderat, Aktif dan siap supervisi, Kreatif dan inovatif, serta
TERus berprestasi.
Saya masih ingat dengan jelas, saat
itu saya mendapat amanah untuk menulis buku berdasarkan indikator kedua: Rajin
Mengaji. Dari sanalah lahir buku saya yang berjudul “Berinteraksi dengan
Al-Qur’an: Adab dan Cara Menjaga Kemuliaannya.” Buku itu menjadi bentuk
cinta saya kepada Al-Qur’an—bukan sekadar bacaan, tetapi panduan kehidupan yang
harus dihormati dan dihayati.
Dan siapa sangka, setahun kemudian,
kami para penulis PAIS Berkarakter dari berbagai daerah di Jawa Timur
dipertemukan kembali dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) lanjutan di Jakarta,
pada tanggal 8–11 Oktober 2025.
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju ibu kota, melainkan juga
perjalanan hati, ilmu, dan semangat kebersamaan.
Perjalanan
Menuju Jakarta
Sekitar seratus orang peserta dari
berbagai kota di Jawa Timur berkumpul. Dua bus besar Pandawa 87 menjadi saksi
perjalanan kami menuju Jakarta. Di setiap kursi terasa ada semangat dan rasa
bangga sebagai bagian dari keluarga besar guru PAI. Tawa, obrolan ringan, dan
kisah perjuangan mengiringi perjalanan panjang itu.
Rasa lelah tak terasa, tergantikan
oleh semangat dan rasa syukur. Sesekali pandangan saya terarah ke luar jendela
— malam menyelimuti jalan raya, tapi cahaya lampu-lampu kota seperti menandakan
harapan yang selalu menyala.
Hari
Pertama: Jejak Ilmu dan Inspirasi di Ibu Kota
Rabu malam, 8 Oktober 2025, kami tiba di Jakarta dan langsung menuju Asrama Haji Pondok Gede, tempat kami menginap selama kegiatan berlangsung. Setelah beristirahat, kamis, 9 oktober 2025, pagi hari rombongan berangkat menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII) — sebuah simbol kebinekaan Indonesia yang mengingatkan kami akan pentingnya nilai moderasi dan persatuan dalam mengajar dan mendidik.
Siang harinya, perjalanan berlanjut
ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Di sinilah kami mengikuti rangkaian
pertama Bimtek, bertempat di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
Rasanya begitu istimewa — berada di tempat yang penuh sejarah dan literasi,
seolah semesta sedang menegaskan kembali makna tulisan yang telah kami
hasilkan. Kami bukan sekadar guru, tapi juga penulis, pembawa nilai, dan
penyampai pesan kebaikan.
Hari
Kedua: Menggali Ilmu di Perpustakaan Nasional
Hari Jumat, kami menuju Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia — bangunan megah yang menyimpan lautan ilmu.
Dari pagi hingga sore, rangkaian Bimtek berlangsung dengan penuh semangat.
Para narasumber memberikan banyak inspirasi tentang bagaimana guru PAI bisa
terus berinovasi, menjadi pendidik yang berkarakter, sekaligus pembimbing
spiritual bagi murid-muridnya di era modern.
Di sela-sela materi, saya sempat
berdiri di depan jendela tinggi Perpusnas, memandangi kota Jakarta dari
ketinggian. Dalam hati saya berkata,
“Ilmu adalah cahaya. Dan selama kita
mencarinya dengan niat yang tulus, Allah akan selalu memberi jalan.”
Selesai kegiatan, kami mengunjungi
dua ikon besar Jakarta: Monumen Nasional (Monas) dan Masjid Istiqlal.
Di Monas, rasa cinta tanah air begitu terasa. Sedangkan di Istiqlal, ketenangan
spiritual menyelimuti hati. Shalat berjamaah di masjid kebanggaan umat Islam
Indonesia itu menjadi penutup indah sebelum kami kembali ke tanah Jawa.
Perjalanan pulang terasa lebih
singkat, mungkin karena hati kami telah dipenuhi banyak kesan dan pelajaran.
Kami tidak hanya membawa oleh-oleh dari Jakarta, tetapi juga membawa semangat
baru — semangat untuk terus menjadi guru PAI yang berkarakter, inspiratif, dan
berdaya guna bagi generasi penerus bangsa.
Setahun menulis, empat hari
berproses, dan satu tekad yang sama: menjadi pendidik yang terus menebar
cahaya kebaikan.
Penutup
Perjalanan ini bukan sekadar agenda
dinas. Ia adalah perjalanan ruhani, perjalanan pembelajaran, dan perjalanan
persaudaraan.
Saya merasa terhormat menjadi bagian dari keluarga besar PAIS Berkarakter —
sebuah gerakan yang menanamkan nilai-nilai keislaman dalam tindakan nyata.
“Ilmu yang disampaikan dengan
ketulusan akan menumbuhkan karakter, dan karakter yang baik akan melahirkan
peradaban.”
Semoga langkah kecil ini menjadi
bagian dari jejak besar dalam membangun pendidikan agama Islam yang berkarakter
di Indonesia.
#PAISBerkarakter #GuruPAI #KemenagJatim #BimtekPAIS2025 #GuruBerkarakter #RajinMengaji #ModerasiBeragama #LiterasiIslam #PendidikanAgamaIslam #GuruInspiratif #PerjalananGuru #BimtekJakarta #PendidikanBerkarakter #BerprestasiBersama


.jpeg)

.jpeg)



