Dalam tidurku, sayup-sayup aku mendengar suara orang mengaji. Meski suaranya tidak seindah suara para Qori’ Al-Qur’an yang ku dengar di TV atau di masjid menjelang adzan, namun aku suka suara ini, suaranya sederhana namun bacaannya sangat fasih, seperti suara mengaji ibuku. aku menikmatinya.
Aku pikir ini mimpi, tapi tiba-tiba tubuhku terguncang. “Novi, bangun nak, sudah Subuh!” suara
ibuku terdengar lembut namun tegas. Ternyata suara tadi memang suara ibuku yang mengaji di sampingku yang sedang
tidur pulas.
Aku menggerutu “aku masih ngantuk
bu!” ucapku sambil menggeliat dan kembali memejamkan mataku.
"Kalau tidak mau bangun, ibu
berangkat ke masjid, ya. Kamu di rumah sendirian, nggak takut?" suara
ibu terdengar lembut tapi penuh maksud. Mata yang semula terpejam langsung
terbuka lebar.
"Sendirian?" gumamku dengan
suara setengah panik. Umurku 11 tahun, aku duduk di kelas lima SD. Ada satu hal
yang sangat aku takuti: gelap dan sendirian. Bayangan gelap dan suara-suara
aneh di rumah langsung terlintas di benakku. Tanpa pikir panjang, aku meloncat
dari tempat tidur, nyaris tersandung selimut. "Tunggu, Bu! Aku ikut!" seruku sambil berlari ke kamar
mandi.
Ibu hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan bacaannya. Aku tahu, beliau sudah
hafal kelemahanku.
***
Sepulang
sekolah, Nia, sepupuku yang terkenal penuh energi, menghampiriku sambil berlari
kecil. "Novi, ayo mandi ke sungai!
Teman-teman yang lain juga bakal ke sana," ajaknya dengan nada
semangat.
Aku
melirik jam dinding yang tergantung di ruang tamu. "Oke, tapi aku sholat Dzuhur dulu ya. Itu sudah adzan," jawabku
sambil tersenyum. Tanpa menunggu respons, aku segera menuju kamar mandi,
berwudhu, lalu menunaikan sholat Dzuhur di mushola kecil rumahku.
Setelah sholat, aku cepat-cepat mengambil ember
kecil berisi baju seragam, sabun, sampo, dan baju ganti. Rasanya tidak sabar
ingin segera bertemu Nia dan teman-teman di sungai. Rumah kami memang dekat
dengan sungai, hanya berjarak 50 meter dari rumah kami. Di tengah perjalanan,
aku bertemu ibu yang baru saja pulang dari rumah nenek.
"Novi, mau ke sungai ya? Sudah sholat
Dzuhur belum, nak?" tanya ibu, menatapku sambil melirik barang-barang
yang kubawa.
"Sudah, Bu," jawabku dengan
nada ceria sambil tersenyum lebar, memperlihatkan baju seragam yang ada di
ember kecilku. "Aku mau nyuci baju
sambil main di sungai."
Ibu tersenyum kecil, lalu mengangguk.
"Hati-hati ya, jangan lupa langsung pulang kalau sudah selesai."
Begitulah
ibu, beliau tidak pernah melarangku bermain selama aku tidak melupakan kewajibanku:
sekolah, mengaji, dan solat. Aku tahu, meskipun tidak cerewet, ibu selalu
memantau setiap langkahku.
Sampai
di sungai, suara tawa teman-temanku langsung menyambutku. "Novi, sini! Airnya dingin banget hari ini!" seru Yuli
sambil melambai ke arahku. Aku tersenyum senang. Sungai ini memang jadi tempat
favorit kami. Dengan air yang jernih mengalir perlahan, pepohonan rindang di
sekitarnya, dan batu-batu besar di tepiannya, sungai ini selalu terasa seperti
taman bermain yang sempurna.
Selesai mencuci tiga baju seragamku, aku langsung bergabung bermain dan berenang bersama mereka. Kami tertawa, saling ciprat air, dan beradu lompat dari batu ke air. Rasanya, semua beban dan tugas sekolah hilang begitu saja di sini.
Setelah
puas bermain, Nia tiba-tiba bertepuk tangan.
"Setelah ini kita main 'Banteng' yuk! Kumpul di halaman sekolah jam dua
siang, oke?" ajaknya dengan mata berbinar-binar.
"Oke, siap! Tapi aku jemur baju dulu
di rumah, ya," jawabku sambil mengangkat ember kecilku yang mulai
berat.
Sesuai
janji, kami kembali berkumpul di halaman sekolah setelah istirahat sebentar.
Kali ini, aku, Yuli, dan Fifi satu tim, sementara Nia, Titin, dan Dewi jadi
lawan. Permainan mulai ramai dengan tawa dan sorakan. Di tengah keseruan, Doni dan Rian tiba-tiba datang.
"Eh, boleh ikut main, nggak?" tanya
Rian sambil tersenyum lebar.
"Ya boleh bangetlah! Tapi kalian harus
ikut tim lawan, ya!" jawab Nia dengan nada bercanda. Tambah dua orang,
permainan jadi semakin seru. Sorak-sorai kami semakin riuh, mengisi halaman
sekolah yang biasanya sepi saat siang. Matahari perlahan turun, tapi semangat
kami tetap membara.
Tidak terasa hari sudah semakin
sore, tapi kami masih saja asyik bermain. Aku ingat, aku belum solat asar.
“Nia, aku pulang dulu ya, mau salat asar nih... Kamu kan juga belum
salat, yuk solat dulu!” aku mendekati Nia untuk mengajaknya solat asar.
"Ah, jangan
dulu, Novi! Lagi seru gini, masa kamu mau ninggalin? Kalau kamu salat, tim kita
bakal pincang! Lagian, sekali ini saja kok
nggak sholat, nggak apa-apa, kan?"
"Tapi, Nia, nanti aku pasti ditanya ibu soal solat,"
ujarku sambil menggigit bibir, ragu-ragu.
Nia memutar bola matanya, lalu mendekat sambil berbisik, "Ya ampun, gampang banget! Sana pulang
sebentar, terus ubah aja posisi mukenamu di musala. Kalau ibumu nanya, bilang
aja udah solat. Beres, kan?”
Aku menelan ludah. "Tapi... itu kan bohong, Nia."
"Ah, nggak apa-apa! Nggak bakal ketahuan, lagian cuma sekali ini
doang kok," balas Nia sambil tersenyum meyakinkan.
Aku ragu-ragu dengan usul Nia,
tapi aku masih ingin bermain bersama teman-teman. Akhirnya aku berlari ke
rumahku, ku ubah posisi mukenaku sesuai saran Nia, lalu aku kembali bermain
bersama mereka.
Waktu sudah menunjukkan jam 17.15
WIB. Pengeras suara di masjid sudah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an,
pertanda adzan magrib akan segera tiba. Kami memutuskan untuk berhenti bermain
dan pulang ke rumah masing-masing.
Dalam
perjalanan pulang, langkahku terasa berat. Angin sore yang biasanya sejuk kini
terasa menusuk. Hatiku berkecamuk, seolah ada suara kecil yang terus berbisik
di telingaku. “Kamu melakukan kesalahan
Novi,” suara itu menggema dalam pikiranku.
"Apa yang harus kukatakan kepada ibu
nanti?" batinku gelisah. "Kalau
aku jujur, ibu pasti kecewa. Tapi kalau aku bohong..." Aku menelan
ludah. Rasanya seperti ada batu besar yang menekan dadaku. "Ah, mungkin cuma sekali ini saja. Tapi kenapa rasanya berat
banget?"
Sepanjang
jalan, bayangan wajah ibu terus terlintas. Selama ini aku tidak pernah
berbohong kepada beliau, apalagi soal solat. Tapi kali ini, aku merasa
langkahku sudah terlalu jauh.
Sampai
di halaman rumah, kulihat ibu berdiri di depan pintu. Mata beliau menatapku
lekat-lekat, penuh kehangatan bercampur penasaran. Aku mencoba memalingkan
pandangan, tapi tubuhku terasa kaku.
"Novi, kok baru pulang? Sudah solat
Asar belum, nak?" suara ibu terdengar lembut, tapi menusuk hatiku
seperti belati. Aku membuka mulut, tapi kata-kata tersangkut di tenggorokanku. “Su..daah, Bu,” ucapku pelan, tapi
anehnya leherku malah menggeleng keras.
Seketika ibu menamparku. Ibuku
yang tidak pernah memukulku, tiba-tiba menamparku. Tamparan itu ringan, tapi
menusuk ke dalam hati. Mata ibu berkaca-kaca, dan aku merasa sangat bersalah. 'Maafkan aku, Bu,' bisikku lirih sambil
melangkah ke kamar mandi.
Setelah
kejadian itu, ibuku sama sekali tidak pernah membahasnya lagi. Tidak ada
kata-kata panjang lebar, tidak ada amarah yang meledak-ledak. Hanya tamparan
kecil yang lebih terasa seperti teguran lembut, seolah berkata, "Nak, jangan ulangi kesalahan ini
lagi." Tamparan itu tidak menyakitkan bagi tubuhku, tapi justru
menembus hatiku, meninggalkan bekas yang sulit dilupakan.
Ibuku
memang bukan tipe yang suka banyak bicara. Ia tidak pernah cerewet seperti
ibu-ibu lainnya. Tapi justru itulah yang membuatku tidak pernah sanggup mengecewakannya.
Keheningannya penuh makna, seolah ia berbicara dengan caranya sendiri. Dan aku
tahu, aku sudah melukai hatinya.
#CerpenIslami #NilaiMoral #Kejujuran
#PendidikanKarakter #KisahKeluarga #InspirasiHidup #KasihSayangIbu
#PelajaranHidup #CeritaAnakMuslim #SolatDanKejujuran


